Jejak Bowo Sidik Pangarso Sebelum Kasus Serangan Fajar

30 Maret 2019 13:40 WIB Whisnupaksa Kridhangkara Espospedia Share :

Solopos.com, JAKARTA -- KPK kembali mengajak masyarakat untuk mengingat dan memahami slogan pilih yang jujur sebagai sikap yang harus diambil dalam Pemilu 2019 ini. Para pemilih diharapkan bersikap jujur dengan cara menolak setiap bujukan atau pemberian uang serangan fajar dan tidak memilih calon pemimpin yang menggunakan politik uang.

Politik uang akan mendorong pejabat korupsi saat menjabat. Hal itu disampaikan Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019) malam.

Lembaga antirasuah menetapkan anggota DPR Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka kasus suap karena diduga membantu terkait PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) sebagai penyedia kapal pengangkut distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia Logistik.

Dalam OTT itu, KPK menyita uang Rp8 miliar. Uang itu telah dimasukkan dalam 400.000 amplop dan tiap amplop berisi uang Rp50.000 atau Rp20.000. Basaria menyebut uang itu akan digunakan Bowo untuk serangan fajar alias politik uang saat Pemilu 2019.

Bowo yang merupakan caleg petahana itu kembali ingin menjadi wakil rakyat dengan maju dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah II yang meliputi Demak, Jepara, dan Kudus.